Pneumonia Atipikal Berat Terkait Infeksi Jamur Paru: Sebuah Studi Kasus

Rontgen dada menunjukkan nodul pada lapang atas paru kanan

Jamur patogen dapat menjadi sumber infeksi pada berbagai sistem organ manusia, namun infeksi jamur paru merupakan yang paling sering ditemukan. Angka kejadian infeksi jamur paru maupun penyakit terkait alergi diestimasikan mencapai 14,356,000 dari seluruh dunia dengan 810,000 kematian. Penelitian terkait pneumonia oleh Farida et.al menyimpulkan bahwa angka kematian yang tinggi (30%) lebih berisiko terjadi pada kasus berat dan kegagalan mengidentifikasi etiologi penyebab pneumonia. Artikel ini melibatkan bakteri dan virus sebagai agen penyebab pneumonia dan terdapat sejumlah kasus dengan etiologi tidak diketahui. Terdapat kemungkinan bahwa jamur mengambil peran dalam kasus dengan etiologi yang tidak diketahui karena masih rendahnya kewaspadaan klinisi terhadap ancaman penyakit jamur paru. Jenis jamur penyebab infeksi paru diantaranya Aspergillus, Pneumocystis, Cryptococcus, Mucorales, Scedosporium, dan Fusarium.

Perempuan, usia 26 tahun, dengan riwayat tuberkulosis (TB) paru datang ke IGD dengan keluhan demam tinggi selama 5 hari (39.8⁰C). Pasien mengeluh batuk berdahak selama 3 bulan, sesak nafas, sakit dada nyeri kepala, mual, muntah yang kesemuanya memberat dalam 1 pekan terakhir. Terdapat penurunan berat badan sebanyak 10kg dalam 1 bulan terakhir. Pasien juga mengatakan baru saja pulang dari berwisata ke daerah pegunungan dan memiliki riwayat terpajan kotoran burung. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan normal leukosit, neutrofilia, dan peningkatan laju endap darah (LED). Rotngen dada menujukkan adanya nodul soliter pada lapang atas paru kanan. BTA dan GenXpert TB  menunjukkan hasil negatif.  Hasil bronkoskopi menunjukkan adanya mucus plug, kemungkinan keganasan belum dapat disingkirkan.  Aspergillus spp dan Gram-negative bacilli tumbuh dari kultur bilasan bronkus. Tes antigen Cryptococcus menggunakan metode latex agglutination test memberikan hasil positif.

Tanda dan gejala pada pasien ini mengarah pada diagnosis pneumonia namun batuk kronis dan penurunan berat badan dapat disebabkan oleh TB paru atau penyakit jamur paru yaitu APK (aspergillosis paru kronik). Diagnosis TB paru disingkirkan karena hasil BTA dan GenXpert TB negative. Nodul paru ialah spektrum klinis yang jarang terjadi namun termasuk dalam kategori APK. Adanya kultur positif Aspergillus menunjang diagnosis APK pada pasien ini. Lebih lanjut, ditemukan hasil positif antigen Cryptococcus, pajanan terhadap kotoran burung dan riwayat bepergian ke daerah pegunungan mengarah pada diagnosis pulmonary cryptococcosis (kriptokokosis paru). Pemeriksaan CT-scan lanjutan, biopsi nodul, dan pengulangan tes serologi jamur direkomendasikan untuk kasus ini.

Kasus lengkap dapat dilihat pada poster di bawah ini:
https://mikologi.or.id/atypical-pneumonia-associated-with-two-pulmonary-fungal-pathogen/

*Studi kasus ini dipresentasikan sebagai poster pada British Infection Association 21st Annual Meeting, 17 Mei 2018 di London, United Kingdom oleh dr. Findra Setianingrum, M.Sc, PhD sebagai perwakilan tim riset.


Daftar pustaka:

  1. Global action fund for fungal infections (GAFFI) Roadmap. Burden of fungal diseases. 2015.
  2. Farida H, Gasem MH, Suryanto A, et al. Viruses and Gram-negative bacilli dominate the etiology of community-acquired pneumonia in Indonesia, a cohort study. Int J Infect Dis. 2015; 38:101-107.     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *